Perjuangan Ummat Islam Indonesia Yang Sebenarnya
“Ikutilah zaman, yang beredar secepat kilat ! kejarlah waktu, dan janganlah biarkan waktu mengejar-ngejar kita! Gunakanlah setiap saat dan detik untuk menunaikan perang mentegakkan Kalimatillah, dalam bentuk dan sifat apa dan manapun! Ketahuilah! Sekali lampau, ia tidak berulang kembali! Songsonglah kedatangan kembali Imam Plm.T.dengan realisasi M.K.T Nomor 11 ini! Tunjukkanlah bukti patuh setiamu kepada Allah! Kepada Rosululloh SAW.! Dan kepada ulil amrimu, Ulil Amri Islam, tegasnya : Imam-Plm.T.! Itulah jalan Jihad Fi Sabilillah, satu-satunya Sirathal-Mustaqim!”.
Tampilkan postingan dengan label biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biologi. Tampilkan semua postingan
Semua makhluk yang hidup di bumi ini mengalami pertumbuhan, perkembangan dan perkembangbiakan. Pertumbuhan merupakan pertambahan volume yang irreversible (tidak dapat kembali lagi) karena terjadi perubahan substansi dan bentuk. Pertumbuhan, perkembangan dan pemeliharaaan jaringan serta penggantian jaringan yang rusak dapat terjadi karena adanya reproduksi sel. Sel pada gilirannya muncul dari peleburan dari dua sel tunggal, yaitu gamet (telur dan sperma) yang diproduksi oleh induknya. Pada dasarnya semua sel terdiri atas dua bagian yang hidup, yaitu sitoplasma dan inti. Inti pada kedua gamet yang berfusi pada proses pembuahan kira-kira sama ukurannya, tetapi biasanya sebagian besar sitoplasma zigot disumbangkan oleh gamet. Memang ada kenyataannya gamet jantan berbagai jenis hampir tidak mengandung sitoplasma. Usaha-usaha untuk memperoleh informasi lebih banyak tentang struktur inti dengan berbagai teknik pewarnaan tidak memberikan perbaikan yang nyata.akan tetapi, jika suatu inti dapat diamati ketika sel tempatnya berada sedang dalam keadaan membelah menjadi dua, maka bahan penyusunnya dapat dilihat jelas. Oleh karena itu bukti mengenai bagaimana bahan dan prosesnya dapat dicari terperinci dalam pembelahan inti.
Pembelahan sel yang lengkap meliputi dua proses, yaitu pembelahan inti sel yang disebut karyokinesis, serta pembelahan sitoplasma yang disebut sitokinensis. Sel yang melakukan pembelahan disebut sel induk, dan sel yang dihasilkan disebut sel anakan. Berdasarkan jumlah sel anakan yang diperoleh, dibedakan menjadi dua macam. Apabila pembelahan sel menghasilkan dua sel anakan disebut pembelahan binner dan apabila pembelahan sel menghasilkan lebih dari dua sel anakan disebut pembelahan ganda. Reproduksi sel dapat terjadi dengan cara pembelahan langsung yaitu melalui amitosis, dan pembelahan tidak langsung yaitu melalui mitosis dan meiosis (reduksi). Amitosis terjadi pada organisme prokaryotik (misal bacteri, ganggang biru), pada makhluk hidup bersel tunggal reproduksi berarti memperbanyak individu. Pembelahan mitosis terjadi pada sel tubuh (somatis), sedangkan pembelahan meiosis terjadi pada peristiwa pembentukan gamet (gametogenesis) yaitu pembentukan ovum (oogenesis) dan pembentukan spermatozoa (spermatogenesis).
A. Amitosis
Pembelahan sel secara langsung tanpa didahului oleh pembentukan gelendong pembelahan, peleburan inti serta penampilan kromosom atau pembelahan langsung tanpa mengalami fase-fase dari satu inti ke dua inti, disebut amitosis. Amitosis umumnya terjadi pada organisme yang selnya belum mempunyai inti dan jaringan endosperm. Hewan dan tumbuhan yang mengalami amitosis misalnya pada Amoeba, Protozoa, Ganggang biru dan Bacteri.
Gb. Amitosis pada Amoeba
B. Mitosis
Mitosis adalah pembelahan inti sel dan sitoplasma yang terjadi melalui tahap/ fase pembelahan dari satu sel induk menjadi dua sel anakan. Mitosis terjadi pada sel tubuh (somatis) di mana kromosomnya berpasangan sehingga disebut diploid (2n). Pembelahan secara mitosis berfungsi untuk memelihara jumlah kromosom, untuk pertumbuhan serta mengganti sel yang rusak. Pembelahan mitosis terjadi di seluruh tubuh (somastis) pada manusia, kecuali pada sel-sel penghasil gamet untuk reproduksi seksual. Pada manusia dewasa diperkirakan setiap detiknya terjadi 25 juta pembelahan mitosis. Pembelahan mitosis pada tumbuhan terjadi pada jaringan embrional, misal titik tumbuh di ujung akar, ujung batang, lingkaran kambium. Pada organisme tertentu, pembelahan mitosis dapat menghasilkan organisme baru, yaitu melalui reproduksi aseksual. Pembelahan sel tidak terjadi secara terus-menerus, tetapi diselingi dengan periode tertentu untuk pembesaran dan persiapan. Sebagian besar periode persiapan untuk proses pembelahan sel adalah untuk pertumbuhan. Periode persiapan ini disebut interfase.
Mitosis dikendalikan oleh gen dalam masing-masing sel. Kerja gen ini dipengaruhi oleh hormon pertumbuhan dan faktor tumbuh lain, misalnya Mitosis Promoting Factor (MPF) yaitu suatu enzim protein kinase yang dihasilkan oleh sel onkrogen. Adanya MPF menyebabkan pertumbuhan sel melebihi sel normal dan dapat menyebabkan kanker.
Tahap pembelahan mitosis, meliputi :
- Tahap pemisahan kromosom, terdiri dari profase, metafase, anafase dan telofase.
- Tahap pembelahan sitoplasma (sitokinensis)
Fase-fase pembelahan mitosis :
1. Profase
Membran inti menghilang, nukleus menghilang, kromatin menjadi kromosom, kromosom menjadi 2 kromatid, terbentuk kutub-kutub pembelahan, dan setiap pasangan kromatid berjalan menuju bidang equator.
2. Metafase
Setiap kromoson yang terdiri dari 2 kromatid kromosom tersusun pada bidang pembelahan atau equator dan kromosom-kromosom tersebut melekat pada benang spindel pada bagian sentromer (kinetokhor) mengatur diri pada bidang equator.
3. Anafase
Kromatid membelah bergerak meninggalkan bidang equator dan setiap pembelahan menuju ke kutub secara berlawanan, benang-benang gelendong berguna sebagai jalur penuntun gerakan kromatid ke kutub.
4. Telofase
Kromatid telah mencapai kutub pembelahan, kromatid memanjang atau menjadi benang kromatin dan letaknya teratur, terbentuknya dinding dan nukleolus, sel membelah dan masing-masing mempunyai inti, dan terbentuk 2 sel anakan yang sama.
Gambar. Mitosis Gambar. Siklus sel
5. Interfase (fese istirahat)
Interfase adalah suatu fase dalam pembelahan mitosis yang mempunyai waktu paling lama, bahkan jumlahnya sekitar 90% dari sekuruh waktu siklus sel. Pada fase ini terjadi sintesis zat-zat dan pengumpulan energi yang banyak untuk pembelahan berikutnya. Jadi dalam pembelahan mitosis setiap satu sel induk (2n) akan menghasilkan 2 sel anakan (2n). Termasuk pada fase ini adalah fase G1, fase S dan fase G2. Selama fase G1, fase S dan fase G2 secara terus-menerus tertjadi proses pembelahan organel, begitu pula dengan komponen yang lain. Hanya sintersa DNA saja yang berlangsung pada fase S. Fase G1 merupakan subfase atau bagian pertama interfase. Subfase berikutnya adalah fase S yang ditandai adanya pembentukan DNA yang tidak terjadi pada fase G1, namun pada fase ini pembentukan organel melalui proses pembelahan terus berlangsung. Fase G2 adalah subfase terakhir menjelang fase mitosis.
Tahap selanjutnya adalah terbentuknya sekat pembelahan sel akibat sitoplasma terbagi menjadi dua, peristiwa ini disebut sitokinesis. Dengan terbentuknya sekat pemisah yang dimulai dari membran tersebut menuju ke tengah, maka sel induk telah menghasilkan dua sel anakan.
C. Meiosis
Pembelahan ini disebut juga pembelahan reduksi. Perkembangan individu baru dimulai saat terjadi fertilisasi yaitu peleburan dua sel gamet (spermatozoa dengan ovum) atau terjadi pada proses pembentukan sel kelamin (sel gamet), dimana satu sel induk (2n) menghasilkan 4 sel anakan (n). Di mana pada proses pembelahan ini terjadi pengurangan jumlah kromosom. Pembelahan meiosis adalah suatu peristiwa reproduksi sel yang menghasilkan sel-sel anak berupa sel-sel haploid. Peristiwa ini berkaitan dengan pembentukan sel-sel gamet yang sifatnya haploid, yang dapat dijelaskan secara berturut-turut sebagai berikut. Pembelahan meiosis terjadi 2 kali tahap pembelahan, yaitu :
Meiosis I
fasenya :
1. Interfase I : Pada fase ini terjadi peristiwa replikasi kromosom, setiap kromosom membentuk kromatid kembar yang melekat pada sentromer.
2. Profase I : Lama profase 90% dari seluruh waktu yang digunakan untuk pembelahan sel secara meiosis, kromosom homolog melekat satu sama lain (sinapsis), kemungkinan terjadi tukar menukar gen antar kromatid yang saling menempel, kromosom homolog tetap berikatan dan selanjutnya menuju ke dataran metafase.
Profase meliputi sub fase :
- Leptoten (leptonema) : kromatin membentuk kromosom.
- Zygoten (zygonema) : terbentuk pasangan kromosom homlog.
- Pakiten (pakinema) : kromosom mengganda menjadi 2 kromatid.
- Diploten (diplonema) : kromatid menebal, membesar, rapat dan bergandengan. Sering terjadi kiasma yaitu peristiwa dimana 2 kromatid tetrad bersilangan pada satu hingga beberapa tempat sehingga terjadi pertukaran segmen kromatid yg mengandung gen, disebut crossing over.
Gambar. Meiosis
- Diakinesis : merupakan tahap akhir profase I, yaitu nukleoli dan nuleus menghilang.
3. Metafase I : Kromosom berpasangan pada bidang equator, sentromer diatur mengarah ke kutub-kutub sel yang bertentangan letaknya.
4. Anafase I : Sentromer membelah dan pasangan kromosom homolog berpisah ditarik menuju ke kutub sel yang berlawanan sehingga masing-masing kutub sel memperoleh separo atau setengah jumlah kromosom sel induk.
5. Telofase I : Terjadi pembentukan membran anakan nukleus di masing-masing kutub dan terjadi pula sitokenesis
6. Interfase I : Pada fase ini terjadi peristiwa replikasi kromosom, setiap kromosom membentuk lromatid kembar yang melekat pada sentromer.
Sitokinesis terjadi sehingga terjadilah dua sel anakan yang memisah. Sitokinesis diikuti interfase yang pendek.
Meiosis II
Fasenya :
1. Profase II : Benang kromatin berubah menjadi benang kromosom, membran inti dan nukleus hilang, pembentukan bidang-bidang gelendong, sentriol bergerak menuju ke kutub sel yang berlawanan
2. Metafase II : Kromosom yang berpasangan menempatkan diri pada bidang equator, sentromer berpisah dan jumlah kromosom masih tetap haploid.
3. Anafase II : Kromatid akan bergerak menuju kutub-kutub sel yang berlawanan.
4. Telofase II : Sitoplasma membelah dan membentuk 4 gamet.
D. Gametogenegsis
Pembelahan sel yang terjadi pada sel kelamin disebut dengan pembelahan meiosis datu reduksi. Sedang proses pembentukan gamet (sel kelamin) melalui pembelahan meiosis, disebut gametogenesis. Pembelahan eduksi terjadi pada kelenjar kelamin jantan (testis) dan kelenjar kelamin betina (ovarium).
Spermatogenesis
Merupakan proses terbentuknya sperma yang terjadi pada kelenjar testis. Dalam testis terdapat tubulus seminiferus. Pada tubulus ini terdapat dua jaringan (ephitelium dan pengikat). Pada jaringan ephitelium terdapat spermatogonia dan sel sertoli yang berfungsi memberi nutriens pada spermatozoid. Selain itu pada tubulus seminiferus juga terdapat sel Leydig yang mensekresikan hormon terstoteron yang berperan pada proses spermatogenesis.
Spertmatogenesis di mulai dengan pembelahan spermatogonia secara meiosis menjadi sel-sel baru yang disebut spermatosit primer. Kemudian sel-sel ini membelah secara meiosis menjadi dua spermatosit sekunder, yang selanjutnya mengalami pembelahan meiosis menjadi empat spermatid yang sama besar. Jasi spermatosit primer mengalami pembelahan meosis I yang menghasilkan spermatosit sekunder yang sama besar. Selama pembelahan meosis II, kedua spermatosit sekunder membelah lagi dan menghasilkan empat spermatid yang sama besar oula. Spermatid berupa sel berbentuk bundar atau bulat dengan sejumlah besar protoplasma dan merupakan gamet dewasa dengan sejumlah kromosom haploid. Walaupun pembelahan meisosis telah sempurna, tetapi spermatid harus mengalami proses pertumbuhan dan deferensiasi lebih lanjut yang sangat komplek untuk menjadi sperma atau spermatozoid yang fungsional.
Urutannya :
Spermatogonia à spermatosit primer à spermatosit sekunder à spermatid à spermatozoa.
Oogenesis
Merupakan proses terbentuknya ovum pada ovarium. Pada anak bayi wanita terdapat oosit primer kurang lebih 1 juta . selama masa kanak-kanak oosit orimer mengalami masa istirahat hingga mencapai usia puber. Usian dewasa oogonesis berlangsung dengan hasil 1 oogonium menjadi 1 ovum (fungsional) dan 3 ootid (tidak fungsional).
Oogonium mengalami pembelahan seara meiosis untuk menghasilkan oogonium tambahan yang mempunyai jumlah kromosom haploid. Selanjutnya oogonium tumbuh berkembang menjadi oosit primer dan pembelahan meiosis I dimuali. Proses selanjutnya adalah pembentukan tetrad (sinapsis) dan pemisahan kromosom homolog seprti yang terjadi pada spermatogenesis. Perbedaannya adalah pembagian sitoplasmanya yang tidak sama sehingga menghasilkan satu sel besar yang disebut oosit sekunder. Oosit sekunder mengandung hampir semua sitoplasma dan kuning telur, serta satu sel kecil yang disebut badan kutub pertama. Dan pembelahan meiosis II, oosit sekunder membelah secara tidak sama dengan dan membentuk sebuah ootid besar. Ootid mengandung hampir semua kuning telur dan sitoplasma, dan sebuah badan kutub kecil yang kedua. Pada saat bersamaan, badan kutub pertama dapat membelah diri menjadi dua badan kutub. Selanjutnya ootid mengalami pertubmuhan dan perkembangan menjadi telur yang dewasa tau masak dan tidak mengamali pembelahan sel. Kemudian ketiga kutub kecil hancur sehingga tiap oosit primer hanya membentuk satu sel telur saja. Pembagian sitoplasma yang tidak sama menjamin bahwa sel telur yang sudah dewaas atau masak mempunyai cukup sitoplasma dan kuning telur untuk hidup terus bila dibuahi.
Urutanya :
Oogonium à osit primer à oosit sekunder à ootid à ovum
Pada fertilisasi yaitu pembuahan sel telur oleh sel mani, terjadilah penyatuan-penyatuan sel-sel yang haploid menjadi zigota yang diploid. Dengan demikian terjalah kombinasi antara kromosom-kromosom yang berasal dari ibu dan ayah. Dengan demikian seoran ganak akan mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan jumlah kromosom pada ayah dan ibunya, sedangkan dalam kromosom anaknya terkandung baik sifat-sifat ayah maupun ibunya. Ini merupakan suatu mekanisme yang penting untuk memperbaiki sifat-sifat individu apabila sifat-sifat yang baik dari ayah maupun ibunya dapat mengadakan kombinasi. Disinilah letak pentingnya meiosis.
Gametogenesis (pembentukan gamet) yang terjadi pada tumbuhan biji
Pembentukan gamet pada tumbuhan bunga (angiospermae) ada dua macam, diantaranya :
- Mikrosporogenesis, yaitu gametogenesis yang terdapat pada bunga jantan dimana kepala sari (antena) menghasilkan serbuk sari (mikrospora).
Mikrosporofit (diploid) yang terdapat didalam kepala sari (antena) terlebihdahulu mengalami pembalahan meiosis I yang menghasilkan dua sel haploid. Pada pembelahan meiosis II dihasilkan empat mikrospora haploid dan berkelompok menjadi satu.
- Megasporogenesis, yaitu gametogenesis yang berlangsung dalam bunga betina dimana bakal buah (ovarium) yang menghasilkan kandung lembaga.
Megasporofit (diploid) yang terdapat di dalam ovarium mengalami pembelahan meiosis I dan menghasilkan dua sel haploid. Peda pembelahan meiosis II dihasilkan empat megaspora haploid yang terletak bederetan. Selanjutnya tiga megaspora akan mati kareana mengalami degenerasi, sedangkan satu megaspora lainnya akan tetap hidup dan kromosomnya tidak disertai pembelahan plasmanya. Pembelahan kromosom secara meiosis ini akan menghasilkan satu sel besar yang disebut kandung lembaga muda dan mempunyai delapan nukleus haploid yang dilindungi kulit di bagian ujungnya berlobang kecil disebut mikropil. Mikropil berfungsi sebagai jalan masuknya saluran serbuk sari ke dalam kandung lembaga.
Pembelahan sel yang lengkap meliputi dua proses, yaitu pembelahan inti sel yang disebut karyokinesis, serta pembelahan sitoplasma yang disebut sitokinensis. Sel yang melakukan pembelahan disebut sel induk, dan sel yang dihasilkan disebut sel anakan. Berdasarkan jumlah sel anakan yang diperoleh, dibedakan menjadi dua macam. Apabila pembelahan sel menghasilkan dua sel anakan disebut pembelahan binner dan apabila pembelahan sel menghasilkan lebih dari dua sel anakan disebut pembelahan ganda. Reproduksi sel dapat terjadi dengan cara pembelahan langsung yaitu melalui amitosis, dan pembelahan tidak langsung yaitu melalui mitosis dan meiosis (reduksi). Amitosis terjadi pada organisme prokaryotik (misal bacteri, ganggang biru), pada makhluk hidup bersel tunggal reproduksi berarti memperbanyak individu. Pembelahan mitosis terjadi pada sel tubuh (somatis), sedangkan pembelahan meiosis terjadi pada peristiwa pembentukan gamet (gametogenesis) yaitu pembentukan ovum (oogenesis) dan pembentukan spermatozoa (spermatogenesis).
A. Amitosis
Pembelahan sel secara langsung tanpa didahului oleh pembentukan gelendong pembelahan, peleburan inti serta penampilan kromosom atau pembelahan langsung tanpa mengalami fase-fase dari satu inti ke dua inti, disebut amitosis. Amitosis umumnya terjadi pada organisme yang selnya belum mempunyai inti dan jaringan endosperm. Hewan dan tumbuhan yang mengalami amitosis misalnya pada Amoeba, Protozoa, Ganggang biru dan Bacteri.
Gb. Amitosis pada Amoeba
B. Mitosis
Mitosis adalah pembelahan inti sel dan sitoplasma yang terjadi melalui tahap/ fase pembelahan dari satu sel induk menjadi dua sel anakan. Mitosis terjadi pada sel tubuh (somatis) di mana kromosomnya berpasangan sehingga disebut diploid (2n). Pembelahan secara mitosis berfungsi untuk memelihara jumlah kromosom, untuk pertumbuhan serta mengganti sel yang rusak. Pembelahan mitosis terjadi di seluruh tubuh (somastis) pada manusia, kecuali pada sel-sel penghasil gamet untuk reproduksi seksual. Pada manusia dewasa diperkirakan setiap detiknya terjadi 25 juta pembelahan mitosis. Pembelahan mitosis pada tumbuhan terjadi pada jaringan embrional, misal titik tumbuh di ujung akar, ujung batang, lingkaran kambium. Pada organisme tertentu, pembelahan mitosis dapat menghasilkan organisme baru, yaitu melalui reproduksi aseksual. Pembelahan sel tidak terjadi secara terus-menerus, tetapi diselingi dengan periode tertentu untuk pembesaran dan persiapan. Sebagian besar periode persiapan untuk proses pembelahan sel adalah untuk pertumbuhan. Periode persiapan ini disebut interfase.
Mitosis dikendalikan oleh gen dalam masing-masing sel. Kerja gen ini dipengaruhi oleh hormon pertumbuhan dan faktor tumbuh lain, misalnya Mitosis Promoting Factor (MPF) yaitu suatu enzim protein kinase yang dihasilkan oleh sel onkrogen. Adanya MPF menyebabkan pertumbuhan sel melebihi sel normal dan dapat menyebabkan kanker.
Tahap pembelahan mitosis, meliputi :
- Tahap pemisahan kromosom, terdiri dari profase, metafase, anafase dan telofase.
- Tahap pembelahan sitoplasma (sitokinensis)
Fase-fase pembelahan mitosis :
1. Profase
Membran inti menghilang, nukleus menghilang, kromatin menjadi kromosom, kromosom menjadi 2 kromatid, terbentuk kutub-kutub pembelahan, dan setiap pasangan kromatid berjalan menuju bidang equator.
2. Metafase
Setiap kromoson yang terdiri dari 2 kromatid kromosom tersusun pada bidang pembelahan atau equator dan kromosom-kromosom tersebut melekat pada benang spindel pada bagian sentromer (kinetokhor) mengatur diri pada bidang equator.
3. Anafase
Kromatid membelah bergerak meninggalkan bidang equator dan setiap pembelahan menuju ke kutub secara berlawanan, benang-benang gelendong berguna sebagai jalur penuntun gerakan kromatid ke kutub.
4. Telofase
Kromatid telah mencapai kutub pembelahan, kromatid memanjang atau menjadi benang kromatin dan letaknya teratur, terbentuknya dinding dan nukleolus, sel membelah dan masing-masing mempunyai inti, dan terbentuk 2 sel anakan yang sama.
Gambar. Mitosis Gambar. Siklus sel
5. Interfase (fese istirahat)
Interfase adalah suatu fase dalam pembelahan mitosis yang mempunyai waktu paling lama, bahkan jumlahnya sekitar 90% dari sekuruh waktu siklus sel. Pada fase ini terjadi sintesis zat-zat dan pengumpulan energi yang banyak untuk pembelahan berikutnya. Jadi dalam pembelahan mitosis setiap satu sel induk (2n) akan menghasilkan 2 sel anakan (2n). Termasuk pada fase ini adalah fase G1, fase S dan fase G2. Selama fase G1, fase S dan fase G2 secara terus-menerus tertjadi proses pembelahan organel, begitu pula dengan komponen yang lain. Hanya sintersa DNA saja yang berlangsung pada fase S. Fase G1 merupakan subfase atau bagian pertama interfase. Subfase berikutnya adalah fase S yang ditandai adanya pembentukan DNA yang tidak terjadi pada fase G1, namun pada fase ini pembentukan organel melalui proses pembelahan terus berlangsung. Fase G2 adalah subfase terakhir menjelang fase mitosis.
Tahap selanjutnya adalah terbentuknya sekat pembelahan sel akibat sitoplasma terbagi menjadi dua, peristiwa ini disebut sitokinesis. Dengan terbentuknya sekat pemisah yang dimulai dari membran tersebut menuju ke tengah, maka sel induk telah menghasilkan dua sel anakan.
C. Meiosis
Pembelahan ini disebut juga pembelahan reduksi. Perkembangan individu baru dimulai saat terjadi fertilisasi yaitu peleburan dua sel gamet (spermatozoa dengan ovum) atau terjadi pada proses pembentukan sel kelamin (sel gamet), dimana satu sel induk (2n) menghasilkan 4 sel anakan (n). Di mana pada proses pembelahan ini terjadi pengurangan jumlah kromosom. Pembelahan meiosis adalah suatu peristiwa reproduksi sel yang menghasilkan sel-sel anak berupa sel-sel haploid. Peristiwa ini berkaitan dengan pembentukan sel-sel gamet yang sifatnya haploid, yang dapat dijelaskan secara berturut-turut sebagai berikut. Pembelahan meiosis terjadi 2 kali tahap pembelahan, yaitu :
Meiosis I
fasenya :
1. Interfase I : Pada fase ini terjadi peristiwa replikasi kromosom, setiap kromosom membentuk kromatid kembar yang melekat pada sentromer.
2. Profase I : Lama profase 90% dari seluruh waktu yang digunakan untuk pembelahan sel secara meiosis, kromosom homolog melekat satu sama lain (sinapsis), kemungkinan terjadi tukar menukar gen antar kromatid yang saling menempel, kromosom homolog tetap berikatan dan selanjutnya menuju ke dataran metafase.
Profase meliputi sub fase :
- Leptoten (leptonema) : kromatin membentuk kromosom.
- Zygoten (zygonema) : terbentuk pasangan kromosom homlog.
- Pakiten (pakinema) : kromosom mengganda menjadi 2 kromatid.
- Diploten (diplonema) : kromatid menebal, membesar, rapat dan bergandengan. Sering terjadi kiasma yaitu peristiwa dimana 2 kromatid tetrad bersilangan pada satu hingga beberapa tempat sehingga terjadi pertukaran segmen kromatid yg mengandung gen, disebut crossing over.
Gambar. Meiosis
- Diakinesis : merupakan tahap akhir profase I, yaitu nukleoli dan nuleus menghilang.
3. Metafase I : Kromosom berpasangan pada bidang equator, sentromer diatur mengarah ke kutub-kutub sel yang bertentangan letaknya.
4. Anafase I : Sentromer membelah dan pasangan kromosom homolog berpisah ditarik menuju ke kutub sel yang berlawanan sehingga masing-masing kutub sel memperoleh separo atau setengah jumlah kromosom sel induk.
5. Telofase I : Terjadi pembentukan membran anakan nukleus di masing-masing kutub dan terjadi pula sitokenesis
6. Interfase I : Pada fase ini terjadi peristiwa replikasi kromosom, setiap kromosom membentuk lromatid kembar yang melekat pada sentromer.
Sitokinesis terjadi sehingga terjadilah dua sel anakan yang memisah. Sitokinesis diikuti interfase yang pendek.
Meiosis II
Fasenya :
1. Profase II : Benang kromatin berubah menjadi benang kromosom, membran inti dan nukleus hilang, pembentukan bidang-bidang gelendong, sentriol bergerak menuju ke kutub sel yang berlawanan
2. Metafase II : Kromosom yang berpasangan menempatkan diri pada bidang equator, sentromer berpisah dan jumlah kromosom masih tetap haploid.
3. Anafase II : Kromatid akan bergerak menuju kutub-kutub sel yang berlawanan.
4. Telofase II : Sitoplasma membelah dan membentuk 4 gamet.
D. Gametogenegsis
Pembelahan sel yang terjadi pada sel kelamin disebut dengan pembelahan meiosis datu reduksi. Sedang proses pembentukan gamet (sel kelamin) melalui pembelahan meiosis, disebut gametogenesis. Pembelahan eduksi terjadi pada kelenjar kelamin jantan (testis) dan kelenjar kelamin betina (ovarium).
Spermatogenesis
Merupakan proses terbentuknya sperma yang terjadi pada kelenjar testis. Dalam testis terdapat tubulus seminiferus. Pada tubulus ini terdapat dua jaringan (ephitelium dan pengikat). Pada jaringan ephitelium terdapat spermatogonia dan sel sertoli yang berfungsi memberi nutriens pada spermatozoid. Selain itu pada tubulus seminiferus juga terdapat sel Leydig yang mensekresikan hormon terstoteron yang berperan pada proses spermatogenesis.
Spertmatogenesis di mulai dengan pembelahan spermatogonia secara meiosis menjadi sel-sel baru yang disebut spermatosit primer. Kemudian sel-sel ini membelah secara meiosis menjadi dua spermatosit sekunder, yang selanjutnya mengalami pembelahan meiosis menjadi empat spermatid yang sama besar. Jasi spermatosit primer mengalami pembelahan meosis I yang menghasilkan spermatosit sekunder yang sama besar. Selama pembelahan meosis II, kedua spermatosit sekunder membelah lagi dan menghasilkan empat spermatid yang sama besar oula. Spermatid berupa sel berbentuk bundar atau bulat dengan sejumlah besar protoplasma dan merupakan gamet dewasa dengan sejumlah kromosom haploid. Walaupun pembelahan meisosis telah sempurna, tetapi spermatid harus mengalami proses pertumbuhan dan deferensiasi lebih lanjut yang sangat komplek untuk menjadi sperma atau spermatozoid yang fungsional.
Urutannya :
Spermatogonia à spermatosit primer à spermatosit sekunder à spermatid à spermatozoa.
Oogenesis
Merupakan proses terbentuknya ovum pada ovarium. Pada anak bayi wanita terdapat oosit primer kurang lebih 1 juta . selama masa kanak-kanak oosit orimer mengalami masa istirahat hingga mencapai usia puber. Usian dewasa oogonesis berlangsung dengan hasil 1 oogonium menjadi 1 ovum (fungsional) dan 3 ootid (tidak fungsional).
Oogonium mengalami pembelahan seara meiosis untuk menghasilkan oogonium tambahan yang mempunyai jumlah kromosom haploid. Selanjutnya oogonium tumbuh berkembang menjadi oosit primer dan pembelahan meiosis I dimuali. Proses selanjutnya adalah pembentukan tetrad (sinapsis) dan pemisahan kromosom homolog seprti yang terjadi pada spermatogenesis. Perbedaannya adalah pembagian sitoplasmanya yang tidak sama sehingga menghasilkan satu sel besar yang disebut oosit sekunder. Oosit sekunder mengandung hampir semua sitoplasma dan kuning telur, serta satu sel kecil yang disebut badan kutub pertama. Dan pembelahan meiosis II, oosit sekunder membelah secara tidak sama dengan dan membentuk sebuah ootid besar. Ootid mengandung hampir semua kuning telur dan sitoplasma, dan sebuah badan kutub kecil yang kedua. Pada saat bersamaan, badan kutub pertama dapat membelah diri menjadi dua badan kutub. Selanjutnya ootid mengalami pertubmuhan dan perkembangan menjadi telur yang dewasa tau masak dan tidak mengamali pembelahan sel. Kemudian ketiga kutub kecil hancur sehingga tiap oosit primer hanya membentuk satu sel telur saja. Pembagian sitoplasma yang tidak sama menjamin bahwa sel telur yang sudah dewaas atau masak mempunyai cukup sitoplasma dan kuning telur untuk hidup terus bila dibuahi.
Urutanya :
Oogonium à osit primer à oosit sekunder à ootid à ovum
Pada fertilisasi yaitu pembuahan sel telur oleh sel mani, terjadilah penyatuan-penyatuan sel-sel yang haploid menjadi zigota yang diploid. Dengan demikian terjalah kombinasi antara kromosom-kromosom yang berasal dari ibu dan ayah. Dengan demikian seoran ganak akan mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan jumlah kromosom pada ayah dan ibunya, sedangkan dalam kromosom anaknya terkandung baik sifat-sifat ayah maupun ibunya. Ini merupakan suatu mekanisme yang penting untuk memperbaiki sifat-sifat individu apabila sifat-sifat yang baik dari ayah maupun ibunya dapat mengadakan kombinasi. Disinilah letak pentingnya meiosis.
Gametogenesis (pembentukan gamet) yang terjadi pada tumbuhan biji
Pembentukan gamet pada tumbuhan bunga (angiospermae) ada dua macam, diantaranya :
- Mikrosporogenesis, yaitu gametogenesis yang terdapat pada bunga jantan dimana kepala sari (antena) menghasilkan serbuk sari (mikrospora).
Mikrosporofit (diploid) yang terdapat didalam kepala sari (antena) terlebihdahulu mengalami pembalahan meiosis I yang menghasilkan dua sel haploid. Pada pembelahan meiosis II dihasilkan empat mikrospora haploid dan berkelompok menjadi satu.
- Megasporogenesis, yaitu gametogenesis yang berlangsung dalam bunga betina dimana bakal buah (ovarium) yang menghasilkan kandung lembaga.
Megasporofit (diploid) yang terdapat di dalam ovarium mengalami pembelahan meiosis I dan menghasilkan dua sel haploid. Peda pembelahan meiosis II dihasilkan empat megaspora haploid yang terletak bederetan. Selanjutnya tiga megaspora akan mati kareana mengalami degenerasi, sedangkan satu megaspora lainnya akan tetap hidup dan kromosomnya tidak disertai pembelahan plasmanya. Pembelahan kromosom secara meiosis ini akan menghasilkan satu sel besar yang disebut kandung lembaga muda dan mempunyai delapan nukleus haploid yang dilindungi kulit di bagian ujungnya berlobang kecil disebut mikropil. Mikropil berfungsi sebagai jalan masuknya saluran serbuk sari ke dalam kandung lembaga.
REPRODUKSI SEL: MITOSIS DAN MEIOSIS
I. TUJUAN
1. Mengetahui dan mengamati tahapan mitosis pada akar bawang Bombay (Allium cepa).
2. Mengetahui dan mengamati tahapan meiosis pada katak (Rana sp.).
3. Mengetahui perbedaan pembelahan secara mitosis dan pembelahan secara meiosis.
II. TEORI
Sel dibagi menjadi 2 kelas utama, yaitu eukariot dan prokariot. Perbedaan utama diantara keduanya terletak pada ada atau tidaknya membran inti yang membatasi inti sel dan sitoplasma. Organisme prokariot tidak memiliki membran inti dan eukariot memiliki membran inti. Semua sel hewan dan tumbuhan adalah eukariot dan bakteri, cyanobacteria dan mycoplasma adalah prokariot (Stafferton J. 2007: 203). Perbandingan secara menyeluruh lihat tabel 1.
Organisme prokariot tidak mengalami pembelahan sel berupa mitosis atupun meiosis, ia hanya mengalami pembelahan sel berupa amitosis, salah satu contohnya adalah pembelahan biner. Organisme eukariot mengalami pembelahan sel secara mitosis pada sel somatisnya dan meiosis pada sel gametnya (Joseph S.W. & Rollins D.M. 2000:6).
Organisme eukariot membutuhkan kemampuan untuk dapat tumbuh, dan proses ini dapat terjadi melalui pembelahan sel dan pertumbuhan sel. Pertumbuhan terkadang merupakan hasil dari satu atau komponen lain saja, tetapi sering terjadi juga bahwa pertumbuhan sel dan perkembangan sel tergabung dalam satu proses yang dinamakan siklus sel (Koning, R.E. 1994:2).
Fungsi utama dari siklus sel adalah menduplikat sejumlah DNA di dalam kromosom dengan tepat, kemudian membelah menjadi dua sel anak yang identik. Proses ini merupakan dua fase utama dari siklus sel. Proses duplikasi DNA terjadi pada fase S (S= sintesis), yang menghabiskan 10-12 jam dan merupakan separuh waktu siklus sel pada tipe sel mamalia. Setelah fase S, terjadi pemisahan kromosom dan pembelahan sel pada fase M (M=Mitotik), yang membutuhkan waktu lebih sedikit ( kurang dari satu jam pada sel mamalia). Mitosis terjadi pada fase M yang dimulai dengan kromosom yang mengalami berkondensasi (Alberts, B. dkk. 2002:2).
Kebanyakan sel membutuhkan waktu lebih lama untuk tumbuh dan menggandakan massa protein dan organel-organelnya daripada untuk mereplikasi DNA dan mengalami pembelahan. fase G adalah fase yang didalamnya terjadi proses-proses diatas. Fase G dibagi menjadi dua, yaitu fase G1 yang terjadi diantara fase M dan fase S dan fase G2 yang terjadi diantara fase S dan mitosis. Jadi, eukariotik mengalami siklus sel yang dibagi menjadi empat fase, yaitu G1, S, G2 dan M (gambar 1). Gabungan dari fase G1, S dan G2 merupakan interfase. Pada sel manusia interfase terjadi sekitar 23 jam dari siklus sel (24 jam), dan satu jamnya adalah mitosis. (Alberts, B. dkk. 2002:3).
Kedua fase G memberikan waktu untuk sel memonitoring lingkungan luar dan dalam, untuk memastikan bahwa kondisi lingkungannya tersebut sesuai dan persiapan telah selesai sebelum sel tersebut memutuskan untuk memasuki fase S dan melakukan mitosis. Fase G1 sangat berperan dalam hal tersebut. Jumlah waktu yang dihabiskan dalam fase ini bisa sangat lama tergantung dari kondisi luar dan sinyal ekstra selular dari sel lain. Jika kondisi luar sel buruk, maka sel dapat menunda kelangsungan fase G1 dan masuk kedalam fase istirahat yang disebut sebagai fase G0. Fase G0 dapat menghabiskan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun sebelum melanjutkan proliferasi. Pada kenyataanya sel menghabiskan waktu terlama di fase G0 sampai sel atau organisme tersebut mati. (Alberts, B. dkk. 2002:3).
Fase mitotik merupakan tempat terjadinya mitosis. Kondensasi kromosom dan pembatasan kromosom replikan terjadi dalam mitosis. Mitosis terbagi menjadi empat fase, yaitu profase, metafase, anafase dan telofase, lihat gambar 2 (Koning, R.E. 1994:6; Benson H. J. dkk. 1996:27; Farabee M.J. 2000:9).
Pada profase yang terjadi di mitosis, membran nukleus menghilang, kromosom terlihat dan setiap sentriol di sentrosom bergerak menuju kutub berlawanan dan menjadi aster. Setiap aster terdiri dari sentriol dan mikrotubulus. Pada profase akhir beberapa mikrotubulus membentuk benang-benang spindel. Sepanjang profase, kromosom mengalami penebalan dan pemendekan, kromosom mengalami penggandaan yang terdiri dari kromatid dan sister kromatid. Penggandaan tersebut merupakan hasil replikasi DNA pada interfase lihat gambar (Koning, R. E. 1994:5; Benson H. J. dkk. 1996:28).
Setelah mengalami penebalan, kromosom akan tersusun di bidang ekuator dan terikat pada mikrotubulus yang terletak di kedua kutub, saat ini disebut dengan metafase. Salah satu kromatid dari setiap kromosom terpisah dari pasangannya dan bergerak menuju kutub yang berlawanan, hal ini terjadi pada anafase (Benson H. J. dkk. 1996:28). Selanjutnya sel akan mengalami telofase yang ditandai oleh adanya kromosom yang telah berada di kutubnya masing-masing, kemudian kromosom tersebut mulai terurai menjadi kromatin. Kariokinesis atau pembelahan inti akan terjadi setelah plasma membran mulai terbentuk. Setelah mengalami kariokinesis, sel tersebut akan mengalami sitokinesis yang ditandai dengan pembentukan cleavage furrow pada hewan (gambar 3) dan cell plate pada tumbuhan (gambar 4).
Tujuan dari pembelahan mitosis adalah regenerasi dan perbaikan sel-sel tubuh yang rusak, karena mitosis menghasilkan sel anak yang identik (Benson H. J. dkk. 1996:28).
Meiosis adalah tipe khusus dari pembelahan nukleus yang melakukan pemisahan tiap kromosom homolog menjadi gamet yang baru. Jika mitosis menghasilkan sel anak yang identik dengan induk, maka meiosis menghasilkan sel anak dengan reduksi jumlah kromosom. Selain itu, meiosis menghasilkan sel anak yang berbeda dengan induknya. (Farabee M.J 2000:1)
Terjadi dua jenis pembelahan pada meiosis, yaitu pembelahan reduksi (meiosis 1) dan pembelahan sel (meiosis 2). meiosis 2 melakukan pembelahan sel layaknya mitosis, karena itulah perbedaan antara mitosis dan meiosis lebih terlihat pada meiosis 1, lihat gambar 5 (Cooper G. M 2000:5)
Meiosis I:
1. Profase 1
Profase 1 memiliki kejadian unik, yaitu sinapsis. Sinapsis adalah suatu proses penghubungan kromosom yang telah tereplikasi. Hasil dari sinapsis tersebut adalah kromosom tetrad yang terdiri dari dua kromatid dari setiap kromosom. Crossing Over sering terjadi pada saat sinapsis. Selama Crossing over, kromatid akan patah dan menempel pada kromosom homolog yang berbeda. Adanya Crossing Over ditandai dengan struktur khusus berupa chiasma. Pada akhir profase I, kromosom homolog akan mulai terpisah, tetapi ia tetap menempel pada chiasmata. Kejadian-kejadian lain pada profase I(selain sinapsis dan crossing over) sama dengan profase pada mitosis, seperti kromatin yang terkondensasi menjadi kromosom, membran inti yang hilang dan terbentuknya spindle apparatus (Farabee M.J 2000:3).
1. Metafase 1
Metafase I terjadi ketika tetrad berjajar di bidang ekuatorial dan benang-benang spindel menempel pada sentromer dari setiap pasangan kromosom yang homolog (Farabee M.J 2000:4).
1. Anafase 1
Anafase I terjadi ketika tetrad terpisah dan bergerak menuju kutub yang berlawanan dengan bantuan benang-benang spindel. Sentromer pada anafase 1 masih tetap utuh (Farabee M.J 2000:6).
1. Telofase 1
Telofase 1 memiliki kesamaan dengan telofase mitosis, tetapi hanya satu set kromosom yang berada didalam sel anak. Membran inti baru mempunyai kemungkinan terbentuk atau tidak, hal tersebut tergantung pada jenis spesies. Beberapa sel hewan mempuyai kemungkinan untuk mengalami pemisahan sentriol pada tahap ini (Farabee M.J 2000:8).
Meiosis II memiliki kesamaan dengan tahapan pada mitosis. Perbedaan secara menyeluruh antara mitosis dan meiosis dapat dilihat pada tabel 2.
Meiosis berperan dalam proses gametogenesis pada sel hewan. Gametogenesis adalah proses pembentukan gamet (n) oleh germ line (2n). Spermatogenesis adalah proses pembentukan sperma yang terjadi di organ tertentu (testes). Sel anak hasil pembelahan meiosis akan berkembang menjadi gamet, kemudian sel yang dihasilkan akan terdiferensiasi menjadi sperma (gambar 6). pembentukan sperma dimulai saat manusia memasuki tahap pubertas. Laki-laki dewasa normal dapat memproduksi 200.000.000 sperma per harinya. Setelah sperma terbentuk, maka ia akan bergerak ke epididimis dan mengalami pematangan (Farabee M.J 2000:12).
Oogenesis adalah proses pembentukan ovum yang terjadi di organ tertentu, yaitu ovarium. sel tumbuhan melakukan oogenesis secara mitosis pada gametofit. Jika spermatogenesis menghasilkan empat sel anak, maka oogenesis hanya menghasilkan satu sel anak (sel telur). Hal tersebut terjadi karena tiga badan polar yang dihasilkan tidak mengalami perkembangan (gambar 7). Ketika baru lahir, setiap wanita membawa simpanan oosit yang akan berkembang menjadi oosit sekunder dan akan dikeluarkan sebagai sel telur setiap bulannya sejak pubertas sampai menopause. (Farabee M.J 2000:15).
Pembelahan sel secara mitosis maupun meiosis melibatkan kromatin, kromatid, sister chromatid, kromosom, kromosom homolog, kinetokor, telomer dan sentrosom.
1. Kromatin adalah gabungan rantai DNA, protein histon dan protein non-histon, kromatin dapat ditemukan di nukleus sel eukariot (Alberts, B. dkk. 2002:18).
2. Kromatid adalah duplikat kromosom yang terbentuk dari replikasi DNA yang tetap bersatu dengan duplikat lain pada sentromer (Alberts, B. dkk. 2002:17)
3. Sister chromatid adalah dua kromatid identik hasil proses duplikasi (Alberts, B. dkk. 2002:17)
4. Kromosom adalah suatu struktur yang tersusun atas rantai panjang DNA dan tergabung dengan protein.kromosom membawa bagian dari informasi genetik suatu organisme (Alberts, B. dkk. 2002:19)
5. Kromosom homolog adalah kromosom yang membentuk pasangan dengan struktur, ukuran, bentuk, posisi sentromer dan pola pewarnaan yang sama (Campbell 2002:244)
6. Kinetokor adalah protein yang terletak di sentromer tiap kromosom (Alberts, B. dkk. 2002:51)
7. Telomer adalah ujung dari kromosom eukariot, telomer berasal dari bahasa yunani yaitu Telos:ujung. Telomer berhubungan dengan rantai karakteristik DNA (Alberts, B. dkk. 2002:88).
8. Sentorosom terletak ditengah organel dari sel hewan yang menjadi pusat pengatur mikrotubulus dan bertindak sebgai kutub spindel selama proses mitosis (Alberts, B. dkk. 2002:17).
III. ALAT,BAHAN DAN CARA KERJA
A. ALAT
Alat yang digunakan dalam praktikum adalah mikroskop, gelas objek dan gelas penutup, silet, pinset, gelas arloji, pembakar spiritus korek dan kertas hisap/tisu.
B. BAHAN
Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah akar umbi bawang Bombay (Alium sp.), pewarna asetokarmin, 1M HCL.
C. CARA KERJA
1. HCL 1M sebanyak 1-2 mL ditempatkan di dalam gelas arloji
2. Ujung akar bawang bombay sepanjang ± 5 mm dipotong dengan silet dan diletakkan di dalam gelas arloji yang telah berisi HCL 1M selama 2–3 menit.
3. Ujung akar dipindahkan ke atas gelas objek dengan menggunakan pinset.
4. Ujung akar dipotong dengan menggunakan silet menjadi potongan-potongan kecil.
5. Sediaan diberikan pewarna asetokarmin sebanyak satu tetes.
6. Gelas penutup diletakkan di atas sediaan.
7. Sediaan dipanaskan dengan cara dilewatkan di atas pembakar spiritus.
8. Sediaan ditutup dengan tisu
9. Sediaan ditekan dengan ibu jari secara hati-hati
10. Sediaan diamati di bawah mikroskop.
IV.PEMBAHASAN
A. MITOSIS
Materi yang digunakan dalam praktikum ini adalah tumbuhan, sebenarnya materi hewani dapat pula digunakan, tetapi karena alasan etika, maka tumbuhan lebih sering dipakai. Bagian tumbuhan yang ingin diamati harus mengandung jaringan meristematik. Ujung akar dan tunas adalah bahan yang paling sesuai untuk mengamati mitosis, sedangkan untuk mengamati meiosis anther yang lebih sesuai (Jurèák J. 1999:9).
Akar bawang mempunyai jumlah kromosom sedikit, sehingga lebih memungkinkan untuk mendapatkan hasil percobaan yang lebih baik. Waktu pemotongan akar merupakan faktor penting dalam melakukan pengamatan mitosis, karena pembelahan sel tidak terjadi spanjang hari, biasanya pagi hari mempunyai tingkat pembelahan sel tertinggi (Jurèák J. 1999:9).
Untuk memudahkan mengamati pembelahan sel, maka kromosom harus diberikan pewarnaan yang dapat mempejelas kehadiran kromosom tersebut. asetokarmin adalah salah satu pewarna yang sering digunakan karena mudah didapat, dan penyerapan warna yang lebih cepat. Golongan asam kuat seperti asam klorida (HCL) digunakan untuk melunakkan jaringan yang akan diamati (Jurèák J. 1999:9).
Setelah sediaan akar diberikan HCL dan asetokarmin, maka langkah berikutnya adalah melakukan proses fiksasi. Proses fiksasi merupakan proses yang bertujuan untuk menghentikan pembelahan sel, sehingga praktikan dapat mengamati berbagai tahapan mitosis (Jones & Rickards 1991:17; Jurèák J. 1999:12)
Praktikan dapat menemukan tiga tahapan mitosis pada sediaan akar, yaitu profase, anaphase dan telofase. Tahap profase menunjukkan kromosom yang terkondensasi dan membran inti tidak terlihat lagi. Tahap anafase menunjukkan salah satu kromatid dari setiap kromosom terpisah dari pasangannya dan bergerak menuju kutub yang berlawanan. Tahap telofase menunjukkan kromosom yang telah terurai menjadi kromatin dan adanya cell plate. Hasil pengamatan praktikan sesuai dengan literatur.
Tahap metafase tidak berhasil diamati oleh praktikan karena waktu fiksasi yang terlalu cepat, waktu pemotongan sediaan akar tidak tepat dan pemotongan sediaan akar tidak pada ujung akar yang masih aktif membelah (Jurèák J. 1999:13).
B. MEIOSIS
Praktikan mengamati tahapan meiosis pada Rana sp. Menggunakan preparat awetan. Penggunaan preparat awetan bertujuan untuk mempermudah pengamatan dan efisiensi waktu. Praktikan berhasil mengamati sebagian tahap profase 1. Proses spermatogenesis pada Rana sp. menunjukkan bahwa semakin kedalam, sel akan mengalami pematangan. Spermatogonia terletak dimembran basal, semakin kedalam terlihat spermatosit primer dan sekunder. Sel sertoli dapat di amati pada membran basal dan berbentuk tidak beraturan. Sperma Rana sp. berbeda dengan sperma manusia, bentuk kepala sperma Rana sp. seperti tanda koma.
V. KESIMPULAN
1. Pembelahan mitosis dapat diamati dengan terlihatnya tahap profase, metafase, anafase dan telofase.
2. Pembelahan meiosis dapat diamati dengan terlihatnya spermatogenesis pada Rana sp.
3. Pembelahan mitosis menghasilkan dua sel anak, hal tersebut dibuktikan dengan hasil pengamatan pada tahap telofase dan pembelahan meiosis menghasilkan empat sel anak pada proses pembentukan sperma.
Siklus sel adalah proses duplikasi secara akurat untuk menghasilkan jumlah DNA kromosom yang cukup banyak dan mendukung segregasi untuk menghasilkan dua sel anakan yang identik secara genetik. Proses ini berlangsung terus-menerus dan berulang (siklik).
Pertumbuhan dan perkembangan sel tidak lepas dari siklus kehidupan yang dialami sel untuk tetap bertahan hidup. Siklus ini mengatur pertumbuhan sel dengan meregulasi waktu pembelahan dan mengatur perkembangan sel dengan mengatur jumlah ekspresi atau translasi gen pada masing-masing sel yang menentukan diferensiasinya.
[sunting] Fase pada siklus sel
1. Fase S (sintesis)
Tahap terjadinya replikasi DNA
2. Fase M (mitosis)
Tahap di mana terjadi pembelahan sel (baik pembelahan biner atau pembentukan tunas)
3. Fase G (gap)
Tahap pertumbuhan bagi sel.
1. Fase G0, sel yang baru saja mengalami pembelahan berada dalam keadaan diam atau sel tidak melakukan pertumbuhan maupun perkembangan. Kondisi ini sangat bergantung pada sinyal atau rangsangan baik dari luar atau dalam sel. Umum terjadi dan beberapa tidak melanjutkan pertumbuhan (dorman) dan mati.
2. Fase G1, sel eukariot mendapatkan sinyal untuk tumbuh, antara sitokinesis dan sintesis.
3. Fase G2, pertumbuhan sel eukariot antara sintesis dan mitosis.
Fase tersebut berlangsung dengan urutan S > G2 > M > G0 > G1 > kembali ke S. Dalam konteks Mitosis, fase G dan S disebut sebagai Interfase.
Spermatogenesis berasal dari kata sperma dan genesis (pembelahan). Pada spermatogenesis terjadi pembelahan secara mitosis dan meiosis. Spermatogenesis merupakan tahap atau fase-fase pendewasaan sperma di epididimis. Setiap satu spermatogonium akan menghasilkan empat sperma matang.
Meiosis adalah salah satu cara sel untuk mengalami pembelahan. Ciri pembelahan secara meiosis adalah:
• Terjadi di sel kelamin
• Jumlah sel anaknya 4
• Jumlah kromosen 1/2 induknya
• Pembelahan terjadi 2 kali
Meiosis hanya terjadi pada fase reproduksi seksual atau pada jaringan nuftah. Pada meiosis, terjadi perpasangan dari kromosom homolog serta terjadi pengurangan jumlah kromosom induk terhadap sel anak. Disamping itu, pada meiosis terjadi dua kali periode pembelahan sel, yaitu pembelahan I (meiosis I) dan pembelahan II (meiosis II)
perbedaan
Mitosis adalah proses pembagian genom yang telah digandakan oleh sel ke dua sel identik yang dihasilkan oleh pembelahan sel. Mitosis umumnya diikuti sitokinesis yang membagi sitoplasma dan membran sel. Proses ini menghasilkan dua sel anakan yang identik, yang memiliki distribusi organel dan komponen sel yang nyaris sama. Mitosis dan sitokenesis merupakan fase mitosis (fase M) pada siklus sel, di mana sel awal terbagi menjadi dua sel anakan yang memiliki genetik yang sama dengan sel awal.
Mitosis terjadi hanya pada sel eukariot. Pada organisme multisel, sel somatik mengalami mitosis, sedangkan sel kelamin (yang akan menjadi sperma pada jantan atau sel telur pada betina) membelah diri melalui proses yang berbeda yang disebut meiosis. Sel prokariot yang tidak memiliki nukleus menjalani pembelahan yang disebut pembelahan biner.
Karena sitokinesis umumnya terjadi setelah mitosis, istilah "mitosis" sering digunakan untuk menyatakan "fase mitosis". Perlu diketahui bahwa banyak sel yang melakukan mitosis dan sitokinesis secara terpisah, membentuk sel tunggal dengan beberapa inti. Hal ini dilakukan misalnya oleh fungi dan slime moulds. Pada hewan, sitokinesis dan mitosis juga dapat terjadi terpisah, misalnya pada tahap tertentu pada perkembangan embrio lalat buah.
Garis besar
Hasil utama dari mitosis adalah pembagian genom sel awal kepada dua sel anakan. Genom terdiri dari sejumlah kromosom, yaitu kompleks DNA yang berpilin rapat yang mengandung informasi genetik vital untuk menjalankan fungsi sel secara benar. Karena tiap sel anakan harus identik secara genetik dengan sel awal, sel awal harus menggandakan tiap kromosom sebelum melakukan mitosis. Proses penggandaan terjadi pada pertengaha intefase, yaitu fase sebelum fase mitosis pada siklus sel.
Setelah penggandaan, tiap kromosom memiliki kopi identik yang disebut sister chromatid, yang berlekatan pada daerah kromosom yang disebut sentromer. Sister chromatid itu sendiri tidak dianggap sebagai kromosom.
sedangkan Meiosis adalah salah satu cara sel untuk mengalami pembelahan. Ciri pembelahan secara meiosis adalah:
Terjadi di sel kelamin
Jumlah sel anaknya 4
Jumlah kromosen 1/2 induknya
Pembelahan terjadi 2 kali
Meiosis hanya terjadi pada fase reproduksi seksual atau pada jaringan nuftah. Pada meiosis, terjadi perpasangan dari kromosom homolog serta terjadi pengurangan jumlah kromosom induk terhadap sel anak. Disamping itu, pada meiosis terjadi dua kali periode pembelahan sel, yaitu pembelahan I (meiosis I) dan pembelahan II (meiosis II)
Ada tiga jenis reproduski sel, yaitu Amitosis, Mitosis dan Meiosis
.
Amitosis adalah reproduksi sel di mana sel membelah diri secara langsung tanpa melalui tahap-tahap pembelahan sel. Pembelahan cara ini banyak dijumpai pada sel-sel yang bersifat prokariotik, misalnya pada bakteri, ganggang biru.
Mitosis berlangsung dalam 4 tahapan, yaitu profase, metafase, anafase dan telofase. Pembelahan sel berlangsung pada titik tumbuh (meristem)
Pada meiosis terjadi hanya 2x periode pembelahan sel, yaitu pembelahan-I (meiosis-I) dan pembelahan-II (meiosis-II)
materi referensi:
wikipedia
Sporogenesis is the production of spores in biology. The term is also used to refer to the process of reproduction via spores. Reproductive spores are formed in many eukaryotic organisms, such as plants, algae and fungi, during their normal reproductive life cycle. Dormant spores are formed, for example by certain fungi and algae, primarily in response to unfavorable growing conditions. Most eukaryotic spores are haploid and form through cell division, though some types are diploid or dikaryons and form through cell fusion.
I. TUJUAN
1. Mengetahui dan mengamati tahapan mitosis pada akar bawang Bombay (Allium cepa).
2. Mengetahui dan mengamati tahapan meiosis pada katak (Rana sp.).
3. Mengetahui perbedaan pembelahan secara mitosis dan pembelahan secara meiosis.
II. TEORI
Sel dibagi menjadi 2 kelas utama, yaitu eukariot dan prokariot. Perbedaan utama diantara keduanya terletak pada ada atau tidaknya membran inti yang membatasi inti sel dan sitoplasma. Organisme prokariot tidak memiliki membran inti dan eukariot memiliki membran inti. Semua sel hewan dan tumbuhan adalah eukariot dan bakteri, cyanobacteria dan mycoplasma adalah prokariot (Stafferton J. 2007: 203). Perbandingan secara menyeluruh lihat tabel 1.
Organisme prokariot tidak mengalami pembelahan sel berupa mitosis atupun meiosis, ia hanya mengalami pembelahan sel berupa amitosis, salah satu contohnya adalah pembelahan biner. Organisme eukariot mengalami pembelahan sel secara mitosis pada sel somatisnya dan meiosis pada sel gametnya (Joseph S.W. & Rollins D.M. 2000:6).
Organisme eukariot membutuhkan kemampuan untuk dapat tumbuh, dan proses ini dapat terjadi melalui pembelahan sel dan pertumbuhan sel. Pertumbuhan terkadang merupakan hasil dari satu atau komponen lain saja, tetapi sering terjadi juga bahwa pertumbuhan sel dan perkembangan sel tergabung dalam satu proses yang dinamakan siklus sel (Koning, R.E. 1994:2).
Fungsi utama dari siklus sel adalah menduplikat sejumlah DNA di dalam kromosom dengan tepat, kemudian membelah menjadi dua sel anak yang identik. Proses ini merupakan dua fase utama dari siklus sel. Proses duplikasi DNA terjadi pada fase S (S= sintesis), yang menghabiskan 10-12 jam dan merupakan separuh waktu siklus sel pada tipe sel mamalia. Setelah fase S, terjadi pemisahan kromosom dan pembelahan sel pada fase M (M=Mitotik), yang membutuhkan waktu lebih sedikit ( kurang dari satu jam pada sel mamalia). Mitosis terjadi pada fase M yang dimulai dengan kromosom yang mengalami berkondensasi (Alberts, B. dkk. 2002:2).
Kebanyakan sel membutuhkan waktu lebih lama untuk tumbuh dan menggandakan massa protein dan organel-organelnya daripada untuk mereplikasi DNA dan mengalami pembelahan. fase G adalah fase yang didalamnya terjadi proses-proses diatas. Fase G dibagi menjadi dua, yaitu fase G1 yang terjadi diantara fase M dan fase S dan fase G2 yang terjadi diantara fase S dan mitosis. Jadi, eukariotik mengalami siklus sel yang dibagi menjadi empat fase, yaitu G1, S, G2 dan M (gambar 1). Gabungan dari fase G1, S dan G2 merupakan interfase. Pada sel manusia interfase terjadi sekitar 23 jam dari siklus sel (24 jam), dan satu jamnya adalah mitosis. (Alberts, B. dkk. 2002:3).
Kedua fase G memberikan waktu untuk sel memonitoring lingkungan luar dan dalam, untuk memastikan bahwa kondisi lingkungannya tersebut sesuai dan persiapan telah selesai sebelum sel tersebut memutuskan untuk memasuki fase S dan melakukan mitosis. Fase G1 sangat berperan dalam hal tersebut. Jumlah waktu yang dihabiskan dalam fase ini bisa sangat lama tergantung dari kondisi luar dan sinyal ekstra selular dari sel lain. Jika kondisi luar sel buruk, maka sel dapat menunda kelangsungan fase G1 dan masuk kedalam fase istirahat yang disebut sebagai fase G0. Fase G0 dapat menghabiskan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun sebelum melanjutkan proliferasi. Pada kenyataanya sel menghabiskan waktu terlama di fase G0 sampai sel atau organisme tersebut mati. (Alberts, B. dkk. 2002:3).
Fase mitotik merupakan tempat terjadinya mitosis. Kondensasi kromosom dan pembatasan kromosom replikan terjadi dalam mitosis. Mitosis terbagi menjadi empat fase, yaitu profase, metafase, anafase dan telofase, lihat gambar 2 (Koning, R.E. 1994:6; Benson H. J. dkk. 1996:27; Farabee M.J. 2000:9).
Pada profase yang terjadi di mitosis, membran nukleus menghilang, kromosom terlihat dan setiap sentriol di sentrosom bergerak menuju kutub berlawanan dan menjadi aster. Setiap aster terdiri dari sentriol dan mikrotubulus. Pada profase akhir beberapa mikrotubulus membentuk benang-benang spindel. Sepanjang profase, kromosom mengalami penebalan dan pemendekan, kromosom mengalami penggandaan yang terdiri dari kromatid dan sister kromatid. Penggandaan tersebut merupakan hasil replikasi DNA pada interfase lihat gambar (Koning, R. E. 1994:5; Benson H. J. dkk. 1996:28).
Setelah mengalami penebalan, kromosom akan tersusun di bidang ekuator dan terikat pada mikrotubulus yang terletak di kedua kutub, saat ini disebut dengan metafase. Salah satu kromatid dari setiap kromosom terpisah dari pasangannya dan bergerak menuju kutub yang berlawanan, hal ini terjadi pada anafase (Benson H. J. dkk. 1996:28). Selanjutnya sel akan mengalami telofase yang ditandai oleh adanya kromosom yang telah berada di kutubnya masing-masing, kemudian kromosom tersebut mulai terurai menjadi kromatin. Kariokinesis atau pembelahan inti akan terjadi setelah plasma membran mulai terbentuk. Setelah mengalami kariokinesis, sel tersebut akan mengalami sitokinesis yang ditandai dengan pembentukan cleavage furrow pada hewan (gambar 3) dan cell plate pada tumbuhan (gambar 4).
Tujuan dari pembelahan mitosis adalah regenerasi dan perbaikan sel-sel tubuh yang rusak, karena mitosis menghasilkan sel anak yang identik (Benson H. J. dkk. 1996:28).
Meiosis adalah tipe khusus dari pembelahan nukleus yang melakukan pemisahan tiap kromosom homolog menjadi gamet yang baru. Jika mitosis menghasilkan sel anak yang identik dengan induk, maka meiosis menghasilkan sel anak dengan reduksi jumlah kromosom. Selain itu, meiosis menghasilkan sel anak yang berbeda dengan induknya. (Farabee M.J 2000:1)
Terjadi dua jenis pembelahan pada meiosis, yaitu pembelahan reduksi (meiosis 1) dan pembelahan sel (meiosis 2). meiosis 2 melakukan pembelahan sel layaknya mitosis, karena itulah perbedaan antara mitosis dan meiosis lebih terlihat pada meiosis 1, lihat gambar 5 (Cooper G. M 2000:5)
Meiosis I:
1. Profase 1
Profase 1 memiliki kejadian unik, yaitu sinapsis. Sinapsis adalah suatu proses penghubungan kromosom yang telah tereplikasi. Hasil dari sinapsis tersebut adalah kromosom tetrad yang terdiri dari dua kromatid dari setiap kromosom. Crossing Over sering terjadi pada saat sinapsis. Selama Crossing over, kromatid akan patah dan menempel pada kromosom homolog yang berbeda. Adanya Crossing Over ditandai dengan struktur khusus berupa chiasma. Pada akhir profase I, kromosom homolog akan mulai terpisah, tetapi ia tetap menempel pada chiasmata. Kejadian-kejadian lain pada profase I(selain sinapsis dan crossing over) sama dengan profase pada mitosis, seperti kromatin yang terkondensasi menjadi kromosom, membran inti yang hilang dan terbentuknya spindle apparatus (Farabee M.J 2000:3).
1. Metafase 1
Metafase I terjadi ketika tetrad berjajar di bidang ekuatorial dan benang-benang spindel menempel pada sentromer dari setiap pasangan kromosom yang homolog (Farabee M.J 2000:4).
1. Anafase 1
Anafase I terjadi ketika tetrad terpisah dan bergerak menuju kutub yang berlawanan dengan bantuan benang-benang spindel. Sentromer pada anafase 1 masih tetap utuh (Farabee M.J 2000:6).
1. Telofase 1
Telofase 1 memiliki kesamaan dengan telofase mitosis, tetapi hanya satu set kromosom yang berada didalam sel anak. Membran inti baru mempunyai kemungkinan terbentuk atau tidak, hal tersebut tergantung pada jenis spesies. Beberapa sel hewan mempuyai kemungkinan untuk mengalami pemisahan sentriol pada tahap ini (Farabee M.J 2000:8).
Meiosis II memiliki kesamaan dengan tahapan pada mitosis. Perbedaan secara menyeluruh antara mitosis dan meiosis dapat dilihat pada tabel 2.
Meiosis berperan dalam proses gametogenesis pada sel hewan. Gametogenesis adalah proses pembentukan gamet (n) oleh germ line (2n). Spermatogenesis adalah proses pembentukan sperma yang terjadi di organ tertentu (testes). Sel anak hasil pembelahan meiosis akan berkembang menjadi gamet, kemudian sel yang dihasilkan akan terdiferensiasi menjadi sperma (gambar 6). pembentukan sperma dimulai saat manusia memasuki tahap pubertas. Laki-laki dewasa normal dapat memproduksi 200.000.000 sperma per harinya. Setelah sperma terbentuk, maka ia akan bergerak ke epididimis dan mengalami pematangan (Farabee M.J 2000:12).
Oogenesis adalah proses pembentukan ovum yang terjadi di organ tertentu, yaitu ovarium. sel tumbuhan melakukan oogenesis secara mitosis pada gametofit. Jika spermatogenesis menghasilkan empat sel anak, maka oogenesis hanya menghasilkan satu sel anak (sel telur). Hal tersebut terjadi karena tiga badan polar yang dihasilkan tidak mengalami perkembangan (gambar 7). Ketika baru lahir, setiap wanita membawa simpanan oosit yang akan berkembang menjadi oosit sekunder dan akan dikeluarkan sebagai sel telur setiap bulannya sejak pubertas sampai menopause. (Farabee M.J 2000:15).
Pembelahan sel secara mitosis maupun meiosis melibatkan kromatin, kromatid, sister chromatid, kromosom, kromosom homolog, kinetokor, telomer dan sentrosom.
1. Kromatin adalah gabungan rantai DNA, protein histon dan protein non-histon, kromatin dapat ditemukan di nukleus sel eukariot (Alberts, B. dkk. 2002:18).
2. Kromatid adalah duplikat kromosom yang terbentuk dari replikasi DNA yang tetap bersatu dengan duplikat lain pada sentromer (Alberts, B. dkk. 2002:17)
3. Sister chromatid adalah dua kromatid identik hasil proses duplikasi (Alberts, B. dkk. 2002:17)
4. Kromosom adalah suatu struktur yang tersusun atas rantai panjang DNA dan tergabung dengan protein.kromosom membawa bagian dari informasi genetik suatu organisme (Alberts, B. dkk. 2002:19)
5. Kromosom homolog adalah kromosom yang membentuk pasangan dengan struktur, ukuran, bentuk, posisi sentromer dan pola pewarnaan yang sama (Campbell 2002:244)
6. Kinetokor adalah protein yang terletak di sentromer tiap kromosom (Alberts, B. dkk. 2002:51)
7. Telomer adalah ujung dari kromosom eukariot, telomer berasal dari bahasa yunani yaitu Telos:ujung. Telomer berhubungan dengan rantai karakteristik DNA (Alberts, B. dkk. 2002:88).
8. Sentorosom terletak ditengah organel dari sel hewan yang menjadi pusat pengatur mikrotubulus dan bertindak sebgai kutub spindel selama proses mitosis (Alberts, B. dkk. 2002:17).
III. ALAT,BAHAN DAN CARA KERJA
A. ALAT
Alat yang digunakan dalam praktikum adalah mikroskop, gelas objek dan gelas penutup, silet, pinset, gelas arloji, pembakar spiritus korek dan kertas hisap/tisu.
B. BAHAN
Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah akar umbi bawang Bombay (Alium sp.), pewarna asetokarmin, 1M HCL.
C. CARA KERJA
1. HCL 1M sebanyak 1-2 mL ditempatkan di dalam gelas arloji
2. Ujung akar bawang bombay sepanjang ± 5 mm dipotong dengan silet dan diletakkan di dalam gelas arloji yang telah berisi HCL 1M selama 2–3 menit.
3. Ujung akar dipindahkan ke atas gelas objek dengan menggunakan pinset.
4. Ujung akar dipotong dengan menggunakan silet menjadi potongan-potongan kecil.
5. Sediaan diberikan pewarna asetokarmin sebanyak satu tetes.
6. Gelas penutup diletakkan di atas sediaan.
7. Sediaan dipanaskan dengan cara dilewatkan di atas pembakar spiritus.
8. Sediaan ditutup dengan tisu
9. Sediaan ditekan dengan ibu jari secara hati-hati
10. Sediaan diamati di bawah mikroskop.
IV.PEMBAHASAN
A. MITOSIS
Materi yang digunakan dalam praktikum ini adalah tumbuhan, sebenarnya materi hewani dapat pula digunakan, tetapi karena alasan etika, maka tumbuhan lebih sering dipakai. Bagian tumbuhan yang ingin diamati harus mengandung jaringan meristematik. Ujung akar dan tunas adalah bahan yang paling sesuai untuk mengamati mitosis, sedangkan untuk mengamati meiosis anther yang lebih sesuai (Jurèák J. 1999:9).
Akar bawang mempunyai jumlah kromosom sedikit, sehingga lebih memungkinkan untuk mendapatkan hasil percobaan yang lebih baik. Waktu pemotongan akar merupakan faktor penting dalam melakukan pengamatan mitosis, karena pembelahan sel tidak terjadi spanjang hari, biasanya pagi hari mempunyai tingkat pembelahan sel tertinggi (Jurèák J. 1999:9).
Untuk memudahkan mengamati pembelahan sel, maka kromosom harus diberikan pewarnaan yang dapat mempejelas kehadiran kromosom tersebut. asetokarmin adalah salah satu pewarna yang sering digunakan karena mudah didapat, dan penyerapan warna yang lebih cepat. Golongan asam kuat seperti asam klorida (HCL) digunakan untuk melunakkan jaringan yang akan diamati (Jurèák J. 1999:9).
Setelah sediaan akar diberikan HCL dan asetokarmin, maka langkah berikutnya adalah melakukan proses fiksasi. Proses fiksasi merupakan proses yang bertujuan untuk menghentikan pembelahan sel, sehingga praktikan dapat mengamati berbagai tahapan mitosis (Jones & Rickards 1991:17; Jurèák J. 1999:12)
Praktikan dapat menemukan tiga tahapan mitosis pada sediaan akar, yaitu profase, anaphase dan telofase. Tahap profase menunjukkan kromosom yang terkondensasi dan membran inti tidak terlihat lagi. Tahap anafase menunjukkan salah satu kromatid dari setiap kromosom terpisah dari pasangannya dan bergerak menuju kutub yang berlawanan. Tahap telofase menunjukkan kromosom yang telah terurai menjadi kromatin dan adanya cell plate. Hasil pengamatan praktikan sesuai dengan literatur.
Tahap metafase tidak berhasil diamati oleh praktikan karena waktu fiksasi yang terlalu cepat, waktu pemotongan sediaan akar tidak tepat dan pemotongan sediaan akar tidak pada ujung akar yang masih aktif membelah (Jurèák J. 1999:13).
B. MEIOSIS
Praktikan mengamati tahapan meiosis pada Rana sp. Menggunakan preparat awetan. Penggunaan preparat awetan bertujuan untuk mempermudah pengamatan dan efisiensi waktu. Praktikan berhasil mengamati sebagian tahap profase 1. Proses spermatogenesis pada Rana sp. menunjukkan bahwa semakin kedalam, sel akan mengalami pematangan. Spermatogonia terletak dimembran basal, semakin kedalam terlihat spermatosit primer dan sekunder. Sel sertoli dapat di amati pada membran basal dan berbentuk tidak beraturan. Sperma Rana sp. berbeda dengan sperma manusia, bentuk kepala sperma Rana sp. seperti tanda koma.
V. KESIMPULAN
1. Pembelahan mitosis dapat diamati dengan terlihatnya tahap profase, metafase, anafase dan telofase.
2. Pembelahan meiosis dapat diamati dengan terlihatnya spermatogenesis pada Rana sp.
3. Pembelahan mitosis menghasilkan dua sel anak, hal tersebut dibuktikan dengan hasil pengamatan pada tahap telofase dan pembelahan meiosis menghasilkan empat sel anak pada proses pembentukan sperma.
Siklus sel adalah proses duplikasi secara akurat untuk menghasilkan jumlah DNA kromosom yang cukup banyak dan mendukung segregasi untuk menghasilkan dua sel anakan yang identik secara genetik. Proses ini berlangsung terus-menerus dan berulang (siklik).
Pertumbuhan dan perkembangan sel tidak lepas dari siklus kehidupan yang dialami sel untuk tetap bertahan hidup. Siklus ini mengatur pertumbuhan sel dengan meregulasi waktu pembelahan dan mengatur perkembangan sel dengan mengatur jumlah ekspresi atau translasi gen pada masing-masing sel yang menentukan diferensiasinya.
[sunting] Fase pada siklus sel
1. Fase S (sintesis)
Tahap terjadinya replikasi DNA
2. Fase M (mitosis)
Tahap di mana terjadi pembelahan sel (baik pembelahan biner atau pembentukan tunas)
3. Fase G (gap)
Tahap pertumbuhan bagi sel.
1. Fase G0, sel yang baru saja mengalami pembelahan berada dalam keadaan diam atau sel tidak melakukan pertumbuhan maupun perkembangan. Kondisi ini sangat bergantung pada sinyal atau rangsangan baik dari luar atau dalam sel. Umum terjadi dan beberapa tidak melanjutkan pertumbuhan (dorman) dan mati.
2. Fase G1, sel eukariot mendapatkan sinyal untuk tumbuh, antara sitokinesis dan sintesis.
3. Fase G2, pertumbuhan sel eukariot antara sintesis dan mitosis.
Fase tersebut berlangsung dengan urutan S > G2 > M > G0 > G1 > kembali ke S. Dalam konteks Mitosis, fase G dan S disebut sebagai Interfase.
Spermatogenesis berasal dari kata sperma dan genesis (pembelahan). Pada spermatogenesis terjadi pembelahan secara mitosis dan meiosis. Spermatogenesis merupakan tahap atau fase-fase pendewasaan sperma di epididimis. Setiap satu spermatogonium akan menghasilkan empat sperma matang.
Meiosis adalah salah satu cara sel untuk mengalami pembelahan. Ciri pembelahan secara meiosis adalah:
• Terjadi di sel kelamin
• Jumlah sel anaknya 4
• Jumlah kromosen 1/2 induknya
• Pembelahan terjadi 2 kali
Meiosis hanya terjadi pada fase reproduksi seksual atau pada jaringan nuftah. Pada meiosis, terjadi perpasangan dari kromosom homolog serta terjadi pengurangan jumlah kromosom induk terhadap sel anak. Disamping itu, pada meiosis terjadi dua kali periode pembelahan sel, yaitu pembelahan I (meiosis I) dan pembelahan II (meiosis II)
perbedaan
Mitosis adalah proses pembagian genom yang telah digandakan oleh sel ke dua sel identik yang dihasilkan oleh pembelahan sel. Mitosis umumnya diikuti sitokinesis yang membagi sitoplasma dan membran sel. Proses ini menghasilkan dua sel anakan yang identik, yang memiliki distribusi organel dan komponen sel yang nyaris sama. Mitosis dan sitokenesis merupakan fase mitosis (fase M) pada siklus sel, di mana sel awal terbagi menjadi dua sel anakan yang memiliki genetik yang sama dengan sel awal.
Mitosis terjadi hanya pada sel eukariot. Pada organisme multisel, sel somatik mengalami mitosis, sedangkan sel kelamin (yang akan menjadi sperma pada jantan atau sel telur pada betina) membelah diri melalui proses yang berbeda yang disebut meiosis. Sel prokariot yang tidak memiliki nukleus menjalani pembelahan yang disebut pembelahan biner.
Karena sitokinesis umumnya terjadi setelah mitosis, istilah "mitosis" sering digunakan untuk menyatakan "fase mitosis". Perlu diketahui bahwa banyak sel yang melakukan mitosis dan sitokinesis secara terpisah, membentuk sel tunggal dengan beberapa inti. Hal ini dilakukan misalnya oleh fungi dan slime moulds. Pada hewan, sitokinesis dan mitosis juga dapat terjadi terpisah, misalnya pada tahap tertentu pada perkembangan embrio lalat buah.
Garis besar
Hasil utama dari mitosis adalah pembagian genom sel awal kepada dua sel anakan. Genom terdiri dari sejumlah kromosom, yaitu kompleks DNA yang berpilin rapat yang mengandung informasi genetik vital untuk menjalankan fungsi sel secara benar. Karena tiap sel anakan harus identik secara genetik dengan sel awal, sel awal harus menggandakan tiap kromosom sebelum melakukan mitosis. Proses penggandaan terjadi pada pertengaha intefase, yaitu fase sebelum fase mitosis pada siklus sel.
Setelah penggandaan, tiap kromosom memiliki kopi identik yang disebut sister chromatid, yang berlekatan pada daerah kromosom yang disebut sentromer. Sister chromatid itu sendiri tidak dianggap sebagai kromosom.
sedangkan Meiosis adalah salah satu cara sel untuk mengalami pembelahan. Ciri pembelahan secara meiosis adalah:
Terjadi di sel kelamin
Jumlah sel anaknya 4
Jumlah kromosen 1/2 induknya
Pembelahan terjadi 2 kali
Meiosis hanya terjadi pada fase reproduksi seksual atau pada jaringan nuftah. Pada meiosis, terjadi perpasangan dari kromosom homolog serta terjadi pengurangan jumlah kromosom induk terhadap sel anak. Disamping itu, pada meiosis terjadi dua kali periode pembelahan sel, yaitu pembelahan I (meiosis I) dan pembelahan II (meiosis II)
Ada tiga jenis reproduski sel, yaitu Amitosis, Mitosis dan Meiosis
.
Amitosis adalah reproduksi sel di mana sel membelah diri secara langsung tanpa melalui tahap-tahap pembelahan sel. Pembelahan cara ini banyak dijumpai pada sel-sel yang bersifat prokariotik, misalnya pada bakteri, ganggang biru.
Mitosis berlangsung dalam 4 tahapan, yaitu profase, metafase, anafase dan telofase. Pembelahan sel berlangsung pada titik tumbuh (meristem)
Pada meiosis terjadi hanya 2x periode pembelahan sel, yaitu pembelahan-I (meiosis-I) dan pembelahan-II (meiosis-II)
materi referensi:
wikipedia
Sporogenesis is the production of spores in biology. The term is also used to refer to the process of reproduction via spores. Reproductive spores are formed in many eukaryotic organisms, such as plants, algae and fungi, during their normal reproductive life cycle. Dormant spores are formed, for example by certain fungi and algae, primarily in response to unfavorable growing conditions. Most eukaryotic spores are haploid and form through cell division, though some types are diploid or dikaryons and form through cell fusion.
inoe joe-closer
| Check Page Rank of any web site pages instantly: |
| This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service |
.jpg)